Usai Lebaran Pedagang Daging Sapi Kok Frustasi, Kenapa?

Pantauan harga sembako usai lebaran di pasar enjo jakarta timur. (CNBC Indonesia/Martyasari Rizki)

Empat hari setelah Lebaran Idul Fitri 1444 H, penjualan daging sapi di pasar tradisional tak menunjukkan kondisi yang menggembirakan bagi para pedagang bahkan bikin frustasi. Pasalnya, para pedagang bukannya jual untung, malah jual rugi karena permintaan yang merosot tapi harga beli daging di tingkat jagal masih tinggi.

Berdasarkan hasil pantauan https://sukseskas138.com/ CNBC Indonesia di Pasar Jaya Enjo, Jakarta Timur pada hari Rabu (26/4/2023) pagi, harga daging sapi untuk bagian paha belakang dibanderol Rp 140.000 per kg, sementara untuk bagian sengkel dibanderol Rp 130.000-135.000 per kg.

Iwan, salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Enjo, Jakarta Timur pusing dan mengeluhkan harga daging di tingkat jagal yang tinggi, namun penjualan setelah Lebaran merosot drastis, sepi dari pembeli.

“Aduh, ini sebetulnya sih harga masih.. pembelanjaannya ya, pembelanjaannya itu masih harga Lebaran ini. Saya beli ini, belum ambil biaya-biaya, untuk daging paha ini Rp 140.000 per kg, kalau yang campur dan sengkel itu Rp 130.000-135.000,” ujar Iwan saat ditemui di lokasi.

Dia menyebut penjualan daging sapi setelah Lebaran amburadul, harga beli yang tinggi tetapi tak ada yang beli di tingkat konsumennya.

“Yah jual daging sekarang sudah amburadul kalau habis Lebaran mah, ada yang jual Rp 130.000 (per kg), ada yang jual Rp 120.000 (per kg). Pokoknya gak bisa lah, gak bisa seperti sebelum Lebaran lagi,” tutur dia.

“Ngambil dari sananya mahal tapi gak bisa ambil untung. Gak bisa sudah, memang yang belanjanya sudah gak ada, paling istilahnya buat ke bakso doang, buat ngisi bakso. Saya jual ini sekarang Rp 140.000 paha belakang, Rp 130.000 sengkel. Gak ada ngambil untung, kalau sudah habis Lebaran ya begini, tinggal kita nunggu dari atas saja. Kalau misal dari atas bisa turun, kemungkinan baru ada,” lanjut dia.

Ditambah dengan kondisi pasar yang sepi, oleh karena itu, Iwan memilih hanya akan menghabiskan stok yang dimilikinya saat ini. Sebab, waktu simpan daging yang sebentar, membuat para pedagang tak bisa menyimpan stok dengan jumlah besar untuk waktu yang lama.

“Berhubung pasar sepi, jadi ini saya ngabisin yang ada saja. Tapi kan namanya daging ya, gak bisa lama-lama (waktu simpannya), jadi kalau gak habis-habis ya kita turunin harganya, dari pada busuk kan. Kalau sudah begini-gini itu bukan jual untung, jual rugi. Kalau daging gak kayak sembako, kalau sembako jual segitu ya segitu saja,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Enap, salah seorang pedagang daging sapi lainnya yang mengatakan bahwa pembelian setelah Lebaran mengalami penurunan yang cukup signifikan. “Setelah Lebaran ini berkurang pembelinya, karena udah pada mudik semua. Paling yang beli cuma tukang bakso aja buat dagang. Abis Lebaran ini sepi pasar, sepinya itu sejak hari Hari ketiga lebaran, hari pertama sampai kedua masih rame,” tutur Enap.

“Untuk hari ini ada yang beli 1 sampe 2 orang. Ini juga stok dari Lebaran. Ini memang udah sepi kondisinya. Ya alhamdulillah saja sih masih ada yang beli, tapi gak banyak,” lanjutnya.

Jaenal, pedagang daging sapi lainnya di Pasar Enjo yang memilih untuk tidak berjualan daging dahulu seusai hari raya Lebaran. Selepas Lebaran, dia memilih untuk menjual potongan kaki sapi dan dalaman sapi seperti hati, paru-paru, dan isian daleman sapi lainnya.

“Saya dari habis Lebaran sih gak ada jual daging, libur dulu, ini jual daleman dan kakinya saja. Soalnya sepi pembeli, jadi mending saya jual yang kayak gini-gini saja dulu (kaki sapi, dalaman sapi),” kata Jaenal.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*