SVB Bangkrut Bikin Startup RI Makin Krisis? Ini Kata Investor

Silicon Valley Bank

Pekan lalu menjadi saat yang menggemparkan bagi perbankan global. Pasalnya, bank terbesar ke-16 di Amerika Serikat (AS), Silicon Valley Bank (SVB), kolaps.

SVB menjadi tumpuan ekosistem startup di AS, dan bahkan berpengaruh ke negara-negara lain seperti India dan Israel. Lantas bagaimana dengan RI?

Partner GDP Venture Antonny Liem Investment menilai, kejadian ini tidak akan secara langsung membuat masa ‘startup winter’ di RI bertambah lama atau makin parah.

Secara pribadi ia merasa kejadian SVB merupakan hal yang normal terjadi seperti pada bank umumnya.

“Karena kalau SVB itu, lagi-lagi cuma urusan bank normal yang kebetulan (lokasinya) di Silicon Valley dan fokusnya di startup,” kata dia dalam acara Power Lunch, di Jakarta, Rabu (15/3/2023).

Menurutnya winter yang terjadi di startup disebabkan masalah makro ekonomi global, inflasi, dan suku bunga yang tinggi, yang secara langsung menyumbang masalah ke SVB.

Sebab, mereka harus bayar deposit sementara bunganya terus naik, dan SVB punya investment jangka panjang. “Tentunya akhirnya kalah ya, jadi ga cuan” imbuhnya singkat.

Untuk saat ini, guncangan yang terjadi memang sedikit bikin kaget industri. Tapi tidak akan secara langsung berdampak ke startup winter, apalagi di Indonesia.

“Kita jauh (dari SVB), kita yang paling deket itu Singapura, banyak perusahaan startup yang di Asia Tenggara banknya di Singapura, nggak sama SVB,” jelasnya.

Pelajaran dari SVB Kolaps untuk Startup RI

Sedangkan menurut On Lee, CEO&CTO GDP Labs, kejadian ini bisa dijadikan pelajaran bagi para startup. Perusahaan disarankan tidak meletakkan dana hanya di satu bank saja.

Dont put your eggs in one bucket. Jadi jangan taruh dana di satu bank,” kata dia saat ditemui dalam kesempatan yang sama.

Lalu yang terpenting bagi para founder, juga harus memperhatikan keadaan finansial perusahaan. Sebab ia menilai kebanyakan founder startup hanya fokus pada pengembangan bisnis, penjualan produk dan marketing saja tanpa punya perhatian lebih pada finansial perusahaan.

“Mendadak duitnya habis tinggal segini. Karena mereka hanya fokus di bisnis. tapi mereka harus pay attention ke finance.” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*