Geger Tipu-Tipu di Bank Raksasa, Bos Cantik Ditangkap

Charlie Javice (Bloomberg via Getty Images)

– Charlie Javice, pendiri startup bantuan pendidikan di Amerika Serikat (AS) Frank, ditangkap pada Senin. Ini akibat tuduhan menipu perusahaan jasa keuangan JPMorgan Chase.

Melansir CNN International Kamis (6/4/2023), Javice langsung didakwa oleh Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC). Ia diduga ‘merampok’ JPMorgan Chase dalam akuisisi perusahaannya senilai US$175 juta (Rp2,6 triliun).

Hal ini bermula di 2021. Perempuan yang pernah masuk dalam Forbes 30 Under 30 mengajukan daftar pelanggan ke JPMorgan Chase untuk pendapat pendanaan.

Javice membuat JPMorgan Chase percaya bahwa Frank memiliki 4,25 juta pengguna sehingga aksi korporasi berjalan mulus. Padahal kenyataannya kurang dari 300.000.

Frank sendiri sebenarnya mendapat bantuan dari investornya Crunchbase. Namun dana itu dimanfaatkan membuat daftar pelanggan palsu.

Kecurigaan JPMorgan Chase muncul muncul saat Javice menolak permintaan untuk membagikan daftar pelanggannya karena masalah privasi. Ketika akhirnya didapat, betapa terkejutnya JP Morgan Chase, karena dari 400.000 email yang dikirimkan hanya 28% yang sukses mencapai inbox penerima.

Investigasi pun dilakukan dan bank masuk ke akun email Frank Javice. Di sana, menurut bank, ditemukan banyak bukti termasuk bahwa perempuan 30 tahu itu menyewa seorang profesor ilmu data untuk membuat informasi palsu untuk membuktikan kepada bank bahwa jutaan pelanggan yang diklaim Frank adalah nyata.

Mengutip NYTimes, ada temuan dari email di mana seorang insinyur Frank mempertanyakan permintaan manipulasi data Javice. Jawaban Javice mencengangkan karena ia optimis “tidak ada orang yang akan berakhir dengan baju oranye (tahanan)” karenanya.

JPMorgan Chase kemudian mengajukan gugatan ke pengadilan Delaware pada Desember. Perusahaan mengklaim bahwa Javice berbohong tentang keberhasilan, ukuran, dan kedalaman penetrasi pasar Frank dengan memalsukan daftar pengguna siswa dari startup-nya.

Javice membantah klaim tersebut. Ia malah menggugat balik pada Februari, menurut The Wall Street Journal.

Untung Ratusan Miliar

Dari penelusuran SEC, Javice ternyata untung besar dari akuisis itu. Ia menerima US$9,7 juta (Rp145 miliar) langsung dari saham, jutaan lainnya secara tidak langsung melalui perwalian, dan kontrak yang memberinya hak atas bonus retensi US$20 juta melalui penjualan perusahaannya tersebut.

“Javice terlibat dalam penipuan gaya lama,” kata Direktur Divisi Penegakan SEC Gurbir S. Grewal.

“Dia berbohong tentang keberhasilan Frank dalam membantu jutaan siswa menavigasi proses bantuan keuangan perguruan tinggi dengan mengarang data untuk mendukung klaimnya, dan kemudian menggunakan informasi palsu itu untuk membujuk JPMC melakukan transaksi US$175 juta,” tambahnya.

Akhirnya Ditangkap

Javice sendiri akhirnya ditangkap Senin malam di New Jersey dengan tuduhan terkait dengan kesepakatan yang sama. Dia pun didakwa dengan tuduhan konspirasi untuk melakukan penipuan perbankan, wire fraud, dan sekuritas.

Jika terbukti bersalah, setiap dakwaan membawa hukuman yang bisa berarti puluhan tahun penjara. Javice sendiri lulusan dari Wharton di University of Pennsylvania.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*